HIPNOTIS.......2
Saya diminta untuk berbicara di beberapa pertemuan di sebuah gereja Baptis di Negara Bagian Maine. Ketika berada di sana, pendeta gereja tersebut menceritakan kisah tentang anak laki- lakinya kepada saya. Anak laki-lakinya sudah bertobat kepada Kristus pada usia enam belas tahun. Ia sudah dibaptis dan menjadi anggota di gereja tempat ayahnya melayani. Ia pergi menuntut ilmu di sebuah sekolah menengah umum yang jauhnya kira-kira enam puluh mil dari tempat kelahirannya. Pada akhir tahun pelajaran, sebuah kegiatan hiburan diadakan bagi siswa dan guru. Kepala sekolah mengundang beberapa penghibur yang mempertunjukkan berbagai bentuk tipuan dan ilusi. Salah satu hiburan yang mereka lakukan ialah mengundang 25 siswa ke atas panggung untuk dihipnotis. Salah satu dari siswa-siswa itu diberi sebuah kentang merah yang besar dan dikatakan kepada siswa tersebut bahwa kentang itu sebenarnya sebuah apel dan ia diizinkan untuk menyantapnya. Siswa tersebut memakan kentang merah itu dengan lahapnya. Kepada siswa pria lain, tukang sulap itu berkata, "Kau adalah seorang bayi dan ini adalah botol susumu yang harus kau minum." Siswa tersebut meminum air susu tersebut sampai tetes yang terakhir. Kepada siswa ketiga, tukang sulap itu berkata bahwa cuaca sangat panas dan siswa itu kini ada di sisi sebuah danau dan ia dapat berenang sekarang. Siswa tersebut melepaskan pakaiannya dan berganti dengan pakaian renang. Semua acara ini menimbulkan tertawaan dan sambutan meriah dari penonton. Kepada anak laki-laki pendeta itu, tukang sulap itu berkata "Kau berada di sebuah arena pacuan kuda dan kudamu memiliki kesempatan untuk menang." Pemuda itu mulai menunggangi sebuah kursi yang ditempatkan di atas panggung seolah-olah ia sedang menunggangi seekor kuda. Ketika acara hiburan itu sudah berakhir, tukang sulap itu melepaskan mereka dari pengaruh hipnotis, semua kecuali anak pendeta tersebut yang tidak dapat dipulihkan dari kesadaran. Kepala sekolah itu menjadi sangat marah. Tetapi walaupun tukang sulap itu sudah berusaha mati-matian, ia tidak dapat menyadarkan anak itu dari pengaruh hipnotisnya. Tak ada yang bisa dilakukan lagi selain membawanya ke rumah sakit. Sebuah mobil ambulans menjemput anak itu ke rumah sakit di mana lima dokter spesialis mencoba untuk menyadarkan anak itu. Mereka ternyata tidak mampu. Ayah anak itu tidak diberitahu sampai enam hari kemudian. Begitu mendengar kabar tentang anaknya, ia langsung pergi ke rumah sakit dan membawa anaknya pulang. Kemudian pendeta itu teringat akan dokter keluarganya yang langsung datang. Dokter itu dengan marah berkata, "Seandainya ia adalah anak saya, saya akan menuntut kepala sekolah dan tukang sulap itu ke pengadilan." Pendeta dan istrinya berdoa selama beberapa hari, tetapi tidak ada perubahan apa pun. Tiba-tiba pendeta itu memperoleh gagasan untuk memerintahkan dalam nama Yesus. Ia memandang dengan iman kepada salib Kristus di Bukit Kalvari dan berseru, "Dalam nama Yesus Kristus, Anak Allah, aku perintahkan segala kuasa kegelapan untuk undur dari anakku." Seketika itu juga pengaruh hipnotis itu dipatahkan. Akhirnya, pacuan kuda itu berakhir.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda